Manusia Setengah Dewasa
Setelah ini apa lagi?
Pertanyaan yang berulang di dalam
pikiran yang hampir membuatku mati berdiri.
Menginjak fasa dewasa awal
agaknya sedikit lebih kompleks dari fasa sebelumnya. Pertemanan yang dulu
hangat, kini mulai hambar termakan kesibukan yang membabi buta. Keceriaan yang dulu
menyala, kian waktu kian redup dimakan realita. Aku pun menyadari, “Oh,
ternyata seperti ini dewasa yang kuanggap dulu menyenanngkan”.
Setiap hari aku terus berpacu
dengan ambisi yang pasang surut. Dulu, ingin sekali jadi saintist, tetapi
kedewasaaan yang sebenarnya menuntunku kepada realita, cukup menjadi pegawai
korporasi di pusat kota. Kepadatan pikiran yang terus melayang senada dengan
kepadatan aktifitas manusia dewasa yang lain. Dulu aku hanya berpikir bagaimana
bisa bersaing, namun saat ini bertambah satu, bagaimana bisa bertahan. Ya,
bagaimana bisa bertahan.
Hal tersulit yang aku pelajari di
masa dewasa awal ini ternyata bukan lagi sebuah pembaharuan, namun bertahan. Dulu
ku kira bertahan hanyalah sebuah alasan untuk beberapa orang yang terlanjur nyaman
di zona aman. Ternyata tidak, ternyata bertahan adalah sebuah seni, seni untuk
bisa tetap hidup ditengah distraksi yang semakin beragam.
Sama seperti saat ini, kehidupan
setelah kampus kukira akan menjadi kehidupan yang mudah. Lulus, mendapat
pekerjaan mapan dengan gaji fantastis, menikah, memiliki keluarga kecil, dan
memiliki bisnis kecil-kecilan dengan omset jutaan. Ternyata aku salah besar!
Kehidupan setelah kampus ternyata sangatlah tidak mudah. Pekerjaan yang ku inginkan
ternyata tidak semudah didapatkan seperti saat mengejar perintilan prestasi waktu
kuliah. Terlebih masalah asmara, ternyata memasuki fase dewasa, semua semakin
kacau. Satu persatu kegagalan kutemui di setiap waktunya. Penolakan-penolakan
berdatangan satu persatu seperti sebuah ajang bergilir yang menyambutku. Kucoba
bermanifest untuk bisa melewati semuanya seperti yang kulakukan saat masih
kuliah, lagi-lagi aku salah. Ternyata bermanifest tidak cukup. Kusadari,
ternyata semua bukan bicara tentang apa, bagaimana, dan siapa diriku difase
sebelumnya. Ketika aku tidak mampu bertahan, disitulah satu persatu
kesempatanku gugur.

Comments
Post a Comment