Manusia Setengah Dewasa
Setelah ini apa lagi? Pertanyaan yang berulang di dalam pikiran yang hampir membuatku mati berdiri. Menginjak fasa dewasa awal agaknya sedikit lebih kompleks dari fasa sebelumnya. Pertemanan yang dulu hangat, kini mulai hambar termakan kesibukan yang membabi buta. Keceriaan yang dulu menyala, kian waktu kian redup dimakan realita. Aku pun menyadari, “Oh, ternyata seperti ini dewasa yang kuanggap dulu menyenanngkan”. Setiap hari aku terus berpacu dengan ambisi yang pasang surut. Dulu, ingin sekali jadi saintist, tetapi kedewasaaan yang sebenarnya menuntunku kepada realita, cukup menjadi pegawai korporasi di pusat kota. Kepadatan pikiran yang terus melayang senada dengan kepadatan aktifitas manusia dewasa yang lain. Dulu aku hanya berpikir bagaimana bisa bersaing, namun saat ini bertambah satu, bagaimana bisa bertahan. Ya, bagaimana bisa bertahan. Hal tersulit yang aku pelajari di masa dewasa awal ini ternyata bukan lagi sebuah pembaharuan, namun bertahan. Dulu ku kira bert...